Peran dan Tantangan Pendidik dalam Menghadapi Generasi Milenial dalam Perspektif Teori Humanistik
Peran dan Tantangan Pendidik dalam Menghadapi Generasi Milenial dalam Perspektif Teori Humanistik
Puji Rahayu
pujiarbry2@gmail.com
Institut Agama Islam Negeri Pekalongan
ABSTRAK
Seorang pendidik harus mempunyai sebuah kompetensi, karena kompetensi merupakan campuran antara pengetahuan, ketrampulan, nilai, sikap yang dibutuhkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Dalam teori humanistik, pendidik berfungsi sebagai fasilisator dimana para pendidik dapat memberikan banyak motivasi belajar untuk anak didiknya. Teori ini dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting salah satunya untuk mengembangkan kemampuan dan potensi dalam belajar. Masa sekarang adalah masa generasi milenial, dimana generasi itu merupakan generasi yang dimana teknologi itu berkembang sangat pesat. Perkembangan informasi dan tekonolgi yang sangat cepat tidak dapat dihindari dan menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembelajaran. Pendidik sebagai garda terdepan harus sudah menguasai teknologi, mengikuti perkembangan yang sedang tren, serta memanfaatkannya dalam sebuah pembelajaran. Dengan adanya perubahan sikap dan mental anak didik dalam generasi milenial, pendidik harus melihat berbagai tantangan sebagai hal yang positif dengan selalu melakukan inovasi dan terampil dalam pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan pada genersi milenial ini pendidik harus mempunyai peran dan tantangan tersendiri untuk menhadapi generasi milenial dalam perspektif teori humanistik.
Kata Kunci: Pendidik, Generasi milenial, Humanistik.
ABSTRACT
An educator must have a competency, because competence is a mixture of knowledge, skills, values, attitudes needed in the habits of thinking and acting. In humanistic theory, educators function as facilitators where educators can provide a lot of learning motivation for their students. This theory in the world of education has a very important role, one of which is to develop the ability and potential in learning. Now is the millennial generation, where the generation is the generation where technology is developing very rapidly. The rapid development of information and technology is inevitable and an important part of education and learning. Educators as the front guard must have mastered technology, followed developments that are trending, and used it in a learning. With the change in attitudes and mentality of students in millennial generation, educators must see a variety of challenges as positive things by always innovating and skilled in learning in accordance with the demands of the times. Therefore, in the world of education in this millennial generation educators must have their own roles and challenges to face millennial generation in the perspective of humanistic theory.
Keywords: Educator, Millenial Generation, Humanistic.
PENDAHULUAN
Generasi milenial adalah generasi muda yang berumur 17-37 pada tahun ini. Sebagian besar dari generasi ini adalah mereka yang masih berada dalam sistem sekolah. Siswa yang hidup pada era milenial ini kebanyakan mereka menghabiskan waktu sebanyak 6,5 jam setiap harinya untuk membaca media cetak, elektronik, digitall, broadcast, berita, dan lain-lain. Banyak dari mereka yang mendengarkan dan merekam musik, melihat dan membagikan konten internet dengan menggunakan smartphone atau komputer mereka sendiri. Orang – orang pada era milenial ini memiliki berbagai macam karakteristik. Mereka gemar memegang kendali, tidak mau terbebani dengan jadwal tambahan. Dan mereka tidak terlalu suka duduk di kelas untuk belajar atau bekerja di kantor. Mereka lebih suka memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar untuk kapan saja, pagi, siang, atau malam (Mahyuddin Barni, 2019: 103). Karakteristik generasi milenial ada yang positif dan ada yang negatif. Sifat positifnya adalah mempunyai rasa solidaritas yang kuat, baik dalam sisi lokal maupun global, percaya diri dan toleran. Sedangkan jika dilihat sifat negatifnya adalah generasi ini mempunyai sikap narsis yang berlebihan.
Pendidik merupakan salah satu profesi yang memiliki tanggung jawab dalam menangani generasi milenial. Tantangan pendidikan yang datang dari perspektif mutu pendidikan menjadi tuntutan digenerasi milenial. Tanggung jawab dan peran seorang pendidik sangat berat, tidak semudah yang dibayangkan dan yang diucapkan. Karena, seorang pendidik adalah sebuah kader-kader bangsa yang mempunyai keunikan dan sangat kompleks karena seseorang pendidik harus siap dalam menghadapi sebuah tantangan pendidikan digenerasi milenial ini. Menjadi seorang pendidik tidak hanya menguasai sebuah materi, tetapi juga harus menguasai sebuah kurikulum yang sudah dilaksanakan dan mampu membuat rencana pembelajaran yang sistematis dengan menerapkan metode apa yang digunakan atau dengan media apa yang akan disampaikan dengan metode tersebut.
Dalam generasi milenial ini, sikap humanistik jarang digunakan. Mungkin latar belakanganya karena banyak faktor, seperti perkembangan teknologi, pandangan, pengaruh budaya luar, serta lingkungan yang semakin amburadul. Kita perlu sekali adanya kebiasaan sikap humanistik yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Karena dalam proses pembelajaran hal pertama yang paling penting dan harus diperhatikan adalah mengenai bagaimana siswa menemukan kenyamanan dan tertarik kepada materi yang sedang disampaikan oleh pendidik yang berupa materi akademik atau materi yang berupa pendidikan karakter.
Terkait dengan hal itu, jurnal ini akan membahas tentang peran dan tantangan pendidik dalam menghadapi generasi milenial dalam perspektif teori humanistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karaktereristik generasi milenial dan permasalahan yang mereka hadapi. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apa saja peran dan tantangan pendidik dalam menghadapi generasi milenial dan layanan yang diberikan untuk generasi milenial dalam perspektif teori humanistik.
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu cara penulis dalam melakukan penelitian yang dilakukan. Selain itu, penelitian terdahulu ini sangat berguna untuk perbandingan. Penulis mengangkat beberapa penelitian sebagai referensi dalam memperbanyak bahan kajian pada penelitian penulis.
Metode Penelitian: Penelitian dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian pustaka. Data-data dijurnal ini diperoleh dari beberapa buku, jurnal nasional, dan jurnal internasional.
PEMBAHASAN
A. Peran Pendidik dalam Menghadapi Generasi Milenial
Generasi milenial menjadi sebutan untuk sebuah generasi yang terjadi pada masa setelah generasi global, atau generasi modern. Sehingga, generasi milenial dapat disebut dengan generasi post-modern (Abuddin Nata, 2019: 10). Generasi milenial merupakan generasi dimana teknologi itu berkembang sangat pesat. Perkembangan informasi dan teknolgi yang sangat cepat tidak dapat dihindari dan menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembelajaran. Pendidik sebagai garda terdepan harus sudah menguasai teknologi, mengikuti perkembangan yang sedang tren, serta memnfaatkannya dalam sebuah pembelajaran. Pembelajaran pada sat ini sudah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Pembelajaran dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, serta tidak mengenal jarak. Oleh sebab itu, revolusi pembelajaran menjadi suatu keniscayaan (Abdul Muis Jaenaidy, 2019: 12). Semua masalah yang berkaitan dengan sarana pembelajaran dapat diselesaikan dengan penguasaan metode dan media. Oleh sebab itu, belajar dan menguasai teknologi dan perkembangan yang ada didalam tekonologi itu sendiri menjadi keharusan bagi seorang pendidik.
Pendidik merupakan seseorang yang inti dalam hal ini. Baik buruknya kulaitas anak bangsa bergantung pada baik atau buruknya pendidik itu sendiri. Karena, salah satu yang menjadikan manusia menjadi baik adalah peranan seorang pendidik. Oleh karena itu, pendidik perlu untuk menyesuaikan keadaan di generasi milenial ini, demi mencapai cita-cita bangsa. Pendidik mempunyai peran yang sangat signifikan dalam memberikan layanan kepada generasi milenial yang salah satu karakteristiknya adalah mereka menggunakan teknologi dalam setiap harinya seperti gadget dan komputer. Dalam kondisi ini, mengharuskan pendidik untuk mengoptimalkan penggunaan teknologi dan informasi dalam memberikan layanan kepada siswa generasi milenial tersebut (Bambang Suryadi, 2015: 2). Dibawah ini merupakan poin - poin peran pendidik di generasi milenial:
-Pendidik sebagai orang tua siswa disekolah.
-Pendidik mengayomi siswa apabila ada sikap siswa yang kurang baik.
-Pendidik membatasi emosional siswa dalam era teknologi.
-Pendidik sebagai guru yang modern dalam mengajarkan berbagai hal.
-Pendidik menyampaikan keilmuan terbaru, hasil penemuan terbaru, atau karya terbaru yang relevan dengan pembelajaranya.
-Pendidik mengedepankan pendidikan karakter kepada siswa.
-Sebagai motivator bagi siswanya dengan cara meneyediakan waktu untuk siswa menyampaikan pendapatnya atau masalah hidupnya.
-Pendidik sebagai pribadi yang menyenangkan, ramah, dan memahami siswa.
Peran pendidik dalam menghadapi generasi milenial akan lebih optimal jika pendidik memiliki informasi yang tepat, akurat, lengkap, dan komperehensif tentang generasi milenial. Informasi yang harus diketahui oleh pendidik adalah sifat-sifat positif dari generasi milenial dan sifat-sifat negatifnya serta permasalahan yang sedang mereka hadapi (Nurfuadi, 2012: 56). Dengan adanya pendidik mengetahui informasi tersebut, pendidik dapat bisa memilah milih dan menetapkan metode-metode dan teknik konseling yang tepat dan yang sesuai untuk generasi milenial tersebut.
B. Pendidikan dalam Teori Humanistik
Pernyataan tentang pengertian humanistik yang bermacam-macam membuat batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan pun memiliki bermacam-macam pengertian juga. Sehingga dalam dunia pendidikan perlu adanya suatu pengertian yang spesifik mengenai humanistik itu sendiri (Novina Suproho, 2010: 2). Teori humanistik mengatakan bahwa tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Pada proses belajar yang berhasil jika si pelajar mamapu memahami lingkunganya dan diri sendiri. Menurut teori humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dari sebelumnya danmerencanakan pendidikan serta kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut (Sri Esti, 1989: 164). Munculnya teori belajar humanistik, tidak bisa dilepaskan arahan dari pendidikan humanistik yang mementingkan diri pada hasil yang afektif, belajar bagaimana cara meningkatkan kemampuan belajar dan belajar bagaimana untuk meningkatkan potendi anak didik.
Dalam teori humanistik, pendidik berfungsi sebagai fasilisator dimana para pendidik dapat memberikan banyak motivasi belajar untuk anak didiknya. Teori ini dalam dunia pendidikan memiliki peranan yang sangat penting salah satunya untuk mengembangkan kemampuan dan potensi dalam belajar. Psikologi humanistik sangat relevan dengan dunia pendidikan, karena lairan ini selalu mendorong peningkatan diri manusia melalui penghargaannya terhadap kemampuan-kemampuan yang positif yang ada setiap manusia (Ratna Syifa’a Rachmana’, 2008: 99). Dalam dunia pendidikan ini, pendidik dan anak didiknya harus saling berkomunikasi dengan baik agar mereka saling peduli satu sama lain dan tidak terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Pendidik juga harus mengenalkan hal-hal baru kepada anak didiknya, karena anak didik berhak mengetahui hal-hal baru tersebut unruk meningkatkan wawasannya agar lebih luas. Tidak hanya itu, pendidik juga wajibb memberikan pengarahan kepada anak didiknya dalam hal pembelajaran. Pendidik yang berperan sebagai orang tua disekolah berharap anak didiknya untuk memahami diri sendiri, mengembangkan kemampuan dirinya yang bersifat positif dan menghindari kemampuan yang bersifat negatif.
Pembelajaran dengan menggunakan teori humanistik yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, serta analisis terhadap fenomena sosial itu cocok untuk diterapkan dimasa sekarang. Pendidikan karakter juga sangat diperlukan dan diperhatikan, dalam hal seperti ini, siswa dapat mampu menyelesaikan masalah dengan tidak ada batasan untuk mengemukakan pendapatnya (Noni Sasmita Praharani, 2016: 6). Para pendidik yang beraliran humanistik mencoba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik untuk bisa meningkatkan kemampuan untuk membuat, berimajinasi, beradaptasi, mencari pengalaman dan mempunyai banyak pengalaman baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, berintuisi, merasakan, dan bersenang senang. Pendidik teori humanistik melihat dalam wawasan yang luas tentang adanya perilaku manusia yang sedang bercengkerama denganya ataupun yang tidak. Para pendidik bertanya-tanya dalam batinnya terlebih dahulu tentang adanya masalah seseorang atau sesuatu yang sedang dilakukan oleh seseorang tersebut.
Dengan adanya pernyataan kalimat diatas, dapat dilihat hal-hal yang diusahakan oleh para pendidik humanistik. Terlihat bahwa teori humanistik ini mementingkan emosional seseorang dalam dunia pendidikan. Seorang tokoh aliran ini yang bernama Freudian, melihat bahwa emosi merupakan hal yang mengganggu perkembangan, sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Sehingga, emosi bisa dikatakan karakteristik yang sangat kuat yang yang nampak dari para pendidik humanistik. Karena cara berpikir dan merasakan saling bersamaan, tidak peduli terhadap emosi sama dengan tidak peduli salah satu potensi terbesar manusia. Oleh karena itu, kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan mendapatkan keuntungan dari teori humanistik ini sama seperti yang kita dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan kognisi (Novina Suproho, 2010: 2). Peranan lingkungan dan faktor-faktor kognitif dalam proses belajar mengajar dalam teori-teori belajar sejauh ini sudah ditekankan. Walaupun teori humanistik ini menjelaskan tentang cara penunjukan bahwa belajar dapat dipengaruhi oleh cara siswa berpikir dan bertindak, teori ini juga sangat jelas dipengaruhi dan diarahkan oleh diri pribadi dan berbagai perasaan yang mereka dapat dari pengalaman belajar mereka sendiri.
Secara singkatnya, teori humanistik dalam sistem pendidikan lebih mementingkan pada perkembangan yang positif. Teori yang hanya fokus pada kemampuan manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangakan kemampuan yang dimilikinya tersebut. Dengan ini mencakup kemampuan interpersonal dan cara untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati kehidupan, dan juga menikmati akan keberadaan masyarakat. kemampuan untuk mengembangkan diri secara positif ini menjadi yang terpenting dalam dunia pendidikan di teori humanistik, karena keterkaitanya dengan hasil pembelajaran akademik (Sri Esti, 1989: 168). Dalam teori ini, para anak didik dianggap berhasil dalam belajar ketika anaka didik mampu memahami lingkunganya dan dirinya sendiri. Teori belajar ini juga berusaha untuk memahami tingkah laku belajar anak didik dari sudut pandang pelakunya bukan melainkan dari sudut pandang pengamatnya.
C. Tantangan Pendidik di Generasi Milenial
Konsep seorang pendidik pada masa sekarang berbeda jauh dengan konsep seorang pendidik pada masa lampau. Pendidik pada zaman dahulu pendidik berarti seorang yang berilmu, yang sangat dihormati, seseorang yang arif dan bijaksana. Tetapi pada zaman sekarang pendidik dilihat sebagai fungsionaris pendidikan yang bertugas mengajar atas dasar kualifikasi keilmuan dan akademis tertentu. Dengan adanya tugas tersebut, pendidik mendapatkan imbalan materi dari negara atau pihak pengelola pendidikan. Dengan demikian, faktor terpenting dari seorang pendidik adalah kualifikasi keilmuan dan akademis. Sementara untuk kebijaksanaan dan kearifan yang merupakan sikap moral tidak lagi signifikan. Dalam konsep klasik, faktor moral berada diatas kualifikasi keguruan.
Kebanyakan generasi milenial mendapatkan berita yang bersumber dari sosial media seperti instagram, twitter, dan lain-lain. Kredibilitas sumber berita tersebut masih sangat sulit diukur. Generasi milenial cenderung malas untuk mencari bukti kebenaran dari berita yang mereka baca dan cenderung hanya menerima informasi hanya dari sumber saja, yaitu sosial media. Inilah keadaan generasi pada saat ini yang lebih memanfaatkan dan percaya dengan sosial media dalam kegiantan sehari-harinya.
Tantangan pendidik pada generasi saat ini lebih berat daripada tantangan pendidik pada generasi sebelumnya (Mahyuddin Barni, 2019: 122). Banyak aspek yang berkaitan dengan pengajaran generasi milenial. Selain itu, sejumlah strategi pengajaran telah dilakukan untuk membantu mrnjrmbatani jurang yang dapat menetang hubungan antara generasi milenial dan generasi lainnya (Rika Swanzen, 2018: 146). Selain harus menguasai aspek keilmuan yang harus mereka ajarkan, pendidik juga dituntut untuk harus memahami teknologi dan selalu menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif. Pendidik harus menjadi role mode bagi siswa didiknya agar siswa didiknya dapat mengerti mengenai batasan-batasan teknologi, sehingga dapat terhindar dari pemanfaatan yang salah dalam memanfaatkan teknologi. Generasi milenial bukan generasi yang mudah dipaksa-paksa. Pendidik dalam generasi ini harus terbuka dengan pemikiran-pemikiran baru dan juga harus mendidik anak didik sesuai dengan zamannya. Pendidik lebih baik menggunakan prioritas pendekatan persuasif daripada menggunakan kebijakan-kebijakan yang terlihat otoriter ataupun memaksakan kehendak. Pendidik memberikan pengertian kepada anak didiknya melalui kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan menggunakan dan memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Contohnya seperti menggunakan e-learning, google classroom, dan lain sebagainya. Dengan begitu, siswa mendapatkan banyak edukasi bahwa teknologi jika digunakan dengan baik maka akan memperoleh dampak yang positif (Mahyuddin Barni, 2019: 122). Keadaan seperti ini tentunya mengharuskan pendidik untuk melek digital atau mampu menguasai teknologi.
Dalam dunia pendidikan ketika pendidik masuk ke dalam kelas bersama laptop akan memberi kesegaran tersendiri bagi anak didik karena pada umumnya akan ada pembelajaran yang meranik yang sudah disiapkan oleh pendidik , seperti pembelajaran yang menggunakan power point dan video. Hal yang terpenting yaitu pendidik harus memiliki kemampuan menggunakan alat-alat teknologi. Karena kemampuan dalam mengoperasikan kompter sangat penting dalam generasi milenial ini, justifikasinya adalah untuk mempermudah pendidik dalam bertugas dan menjalankan profesinya, seperti contoh penyusunan RPP dan membuat nilai. Selain itu, pendidik juga harus mempunyai sifat yang berhati mulia, bijaksana yang berarti segala masalah yang dapat diseleaikan dengan cara kekeluargaan, ikhlas yanng berarti segala pekerjaan yangg dikerjakan tidak mengharapkan upah, ongkos, pujian, dan lain-lain, serta pendidik juga harus sabar, karena buah dari kesabaran tersebut merupakan sebuah keberhasilan seorang pendidik dalam tugas pendidikanya serta tanggung jawab pembentukan karakter dan perbaikan diri anak didiknya.
Dengan adanya sifat dan tugas pendidik tersebut, pendidik harus terus menerus meningkatkan pengetahuan teknologinya (Anggun, Mauli, 2019: 252). Sementara sikap guru yang konservatif terhadap teknologi telah diidentifikasi sebagai penghalang untuk keefektifan integritasi teknologi diruang kelas, karena sering diasumsikan secara optimis bahwa problematika seperti ini dapat diselesaikan ketika generasi milenial memasuki profesi pendidik (Lan, Eric, YuChun, Rhonda, 2015: 1). Sebuah gadget harus digunakan dengan semaksimal mungkin untuk mengakses informasi yang banyak agar pendidik tidak kalah pengetahuan dengan anak didiknya. Pendidik juga harus memiliki ruang yang besar karena diharapkan mampu untuk menghadapi generasi milenial dan dapat melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter.
Selain itu, anak didik generasi milenial membutuhkan macam-macam cara agar dapat menggairahkan minat belajar mereka, karena peserta didik ini lebih menguasai informasi yang disuguhkan pada gadget. Namun penggunaan cara tersebut juga harus sesuai dengan materi pelajaranya, agar penyampaian materinya dapat tersampaikan dan dapat berkolaborasi dengan media pembelajaran (Anggun, Mauli, 2019: 252). Cara yang digunakan bisa dengan cara yang pertama yaitu cara tanya jawab, pendidik bisa memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bertanyadan pendidik akanmenjawab, bisa juga sebaliknya, pendidik yang bertanya dan siswa didik yang menjawab. Kedua dengan cara eksprerimen, anak didik bisa melakukan percobaan,dan mengamati prosesnya lalu menuliskan hasil pengamatannya tersebut, kemudia hasilnya disampaikan didepan kelas dan setelah itu hasil dari pengamatan tersebut bisa dievaluasi oleh pendidik. Cara yang ketiga adalah melalui lecture method, cara in biasa dilakuka oleh pendidik melalui pembelajaran secara lisan dengan pendidik menyampaikan materi pembelajaranya secara monolog dan way one comunication. Cara yang ketiga ini biasanya mudah membuat bosan, maka dalam melakukanya memerlukan ketrampilan tertentu, agar anak didik tidak merasakan bosan kepada cara pembelajaranya dan agar dapat menarik perhatian anak didik.
Pada dasarnya, pendidik hendaknya memahami dan mempelajari perubahan sosial yang ada digenerasi saat ini dan tidak berhenti untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Tantangan selanjutnya seorang pendidik digenerasi milenial adalah saat ini informasi datang lebih cepat, massif dan mudah sekali meluas dalam sekejap. Sehingga, tidak bisa dibatasi dengan sekedar pergantian kurikulum. Beberapa kali sudah melakukan pergantian kurikulum, tetapi masih tetap susah untuk mengejar percepatan informasi yang ada. Oleh karena itu, pendekatan pendidik dan siswa didik dalam berkomunikasi akan lebih penting. Perlu adanya keteladanan, membangun kehendak, dan menguatkan dengan bekal ilmu pengetahuan , sehingga anak didiknya mampu mengatasi masalah atau tantangan hidupnya.
Tantangan selanjutnya dari seorang pendidik adalah adanya tempat untuk berterampil yang diberikan untuk anak didik sejak dini, yaitu melahirkan pemikir, melahirkan komunikator, dan melahirkan penemu atau pencipta (Mahyuddin Barni, 2019: 125). Salah satu ciri khas generasi milenial adalah pandangannya yang rasional, yaitu apa yang dilihat, didengar serta dirasa akan melahirkan persepsi (Anggun, Mauli, 2019: 254). Pendekatan yang dilakukan oleh pendidik untuk meningkatkan kualitas pendidikan pada anak didik digenerasi milenial ini menggunakan cara 4R, Yaitu Riset atau biasa disebut penelitian yang berarti perlu adanya pencarian teknologi apa yang dapat dikaitkan atau dibawakan didalam untuk penyampaikan sebuah materi sehingga anak didik dapat merasa nyaman dan cocok dalam pengajaran yang efektif tersebut. 4R yang kedua yaitu Relevansi yang berarti dari segi pembawaan materi apakah masih relevan atau tidak dengan generasi sekarang ini, dan apakah hal tersebut masih berfungsi dan uptodate atau tudak. 4R yang ketiga adalah Rapport yang artinya pada generasi milenial sangat mementingkan relasi. Kecenderungan ini ditunjukkan dengan adanya rasa suka terhadap pertemanan secara berkelompok. Sehingga para anak didik akan senang dan merasa nyambung dengan pendidik aapabila mereka mempunyai rasa suka terhadap sesuatu yang sama dengan pendidik. 4R yang keempat adalah Rational yang berarti perlu penjelasan terlebih dahulu kepada anak didik tentang garis besar dan tujuan dari tugas atau materi yang akan diberikan.
Dengan adanya perubahan sikap dan mental anak didik dalam generasi milenial, pendidik harus melihat tantangan ini sebagai hal yang positif dengan selalu melakukan inovasi dan terampil dalam pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman (Anggun, Mauli, 2019: 256). Karena maju mundurnya bangsa tergantung pada pendidik yang sebagai pencetak generasi bangsa yang cerdas dan berkualitas.
D. Pendidikan Generasi Milenial dalam Perspektif Teori Humanistik
Dalam dunia pendidikan, humansitik erat hubungannya dengan keadaan semua komponen pendidikan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing tetapi masih memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan (Fakhruddin, 2016). Dalam lingkungan yang lebih sempit yaitu sekolah, proses humanistik erat hubungannya dalam perlakuan pendidik kepada anak didik. Dalam generasi milenial ini, sikap humanistik jarang digunakan. Mungkin latar belakanganya karena banyak faktor, seperti perkembangan teknologi, pandangan, pengaruh budaya luar, serta lingkungan yang semakin amburadul. Kita perlu sekali adanya kebiasaan sikap humanistik yang diterapkan dalam dunia pendidikan. Mengapa begitu? Karena dalam proses pembelajaran hal pertama yang paling penting dan harus diperhatikan adalah mengenai bagaimana siswa menemukan kenyamanan dan tertarik kepada materi yang sedang disampaikan oleh pendidik yang berupa materi akademik atau materi yang berupa pendidikan karakter.
Dalam dunia pendidikan biasanya ada 2 macam tipe siswa yang memiliki persepsi belajar yang berbeda. Tipe yang pertama adalah siswa yang mampu mengikuti pembelajaran sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh pendidik. Tipe yang kedua yaitu siswa yang mempunyai persepsi yang berbeda dengan pendidik dan siswa tersebut memilih melakukan pendapatnya sendiri dan tidak tertarik dengan pendapatnya orang lain (Niken Setyaningsih, 2018). Teori humanistik tersebut harus diterapkan untuk siswa yang memiliki persepsi tipe yang kedua.
Menurut Rogers, beberapa konten yang dipelajari oleh siswa itu tidak penting. Hampir semua siswa akan menyadari bahwa bagian tertentu dari konten tanpa signifikansi pribadi. Rogers mempercayai bahwa salah satu peristiwa dalam pendidikan menganggap belajar kognitif sebagai faktor yang terpenting (DU Jingna, 2012: 33). Rogers menganggap bahwa hubungan antar pendidik dan peserta didik sebagai “ketel dan cangkir”. Pendidik sebagai ketel, dan peserta didik sebagai cangkir.
Humanisme dalam dunia pendidikan itu diperlukan, karena agar anak didik mampu membangun empati dan simpati. Dari perspektif humanistik, pendidik seharusnya lebih memperhatikan pendidikan agar lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang (afektif). Kebutuhan afektif merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan emosional, persaan, nilai, sikap, dan moral (Amoa, Grace, 2017: 181).
SIMPULAN
Generasi milenial merupakan generasi dimana teknologi itu berkembang sangat pesat. Perkembangan informasi dan tekonolgi yang sangat cepat tidak dapat dihindari dan menjadi bagian penting dari pendidikan dan pembelajaran. Pendidik sebagai garda terdepan harus sudah menguasai teknologi, mengikuti perkembangan yang sedang tren, serta memnfaatkannya dalam sebuah pembelajaran. Dalam dunia pendidikan, humansitik erat hubungannya dengan keadaan semua komponen pendidikan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing tetapi masih memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan. Dengan adanya perubahan sikap dan mental anak didik dalam generasi milenial, pendidik harus melihat berbagai tantangan sebagai hal yang positif dengan selalu melakukan inovasi dan terampil dalam pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan zaman. Dari perspektif humanistik, pendidik seharusnya lebih memperhatikan pendidikan agar lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang (afektif).
REFERENSI
Aguiton, R., Worch, E., Zhou, Y. 2015. How And Way Digital Generation Teachers Use Technology In The Classroom: An Explanatiory Sequential Mixed Methods Study. International Jurnal for the Scholarship of Teaching and Learning, Vol. 9, No. 2, Article 9.
Aliyah, M. A., Fajriana, A. W. 2019. Tantangan Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Agama Islam di Era Milenial. Jurnal Pendidikan Islam, Vol.2, No. 2, hal 246-265.
Amialia, G. N., Amos, N. 2017. Dasar Pengenalan Diri Sendiri Menuju Perubahan Hidup. Depok: Kencana.
Aritonang, N., Hariko, R., Muwakkidah, Zulfikar. 2017. Konseling humanistik: sebuah tinjauan filosofi. Jurnal Konseling, Vol. 3, No. 1, hlm. 146-151.
Barni. M. 2019. Tantangan Pendidik di Era Milenial. Jurnal Transformatif, Vol. 3, No. 1, hal. 99-116.
Budiani, N. 2019. Etika Profesi Pendidikan Generasi Milenial 4.0. Malang: UB Press.
Djiwandon, S. W. 1989. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Grasindo.
Fakhruddin. 2016. Konsep Humanistik Ditinjau Dari Perspektif Pendidikan Islam. Jurnal Kajian Keislaman Dan Kemasyarakatan, Vol. 1, No. 2, hlm. 138-158.
Istiarsono, Z. 2018. Tantangan Pendidikan Dalam Era Globalisasi. Jurnal Intelegensia, Vol. 1, no. 2, hlm.19-24.
Jingna, D. 2012. Aplication of Humanism Theory in the Teaching Approach. International jurnal higher education of social science, Vol. 3, No. 1, 32-36.
Lalo, K. 2018. Menciptakan Generasi Milenial Berkarakter Dengan Pendidikan Karakter Guna Menyongsong Era Globalisasi. Jurnal Ilmu Kepolosian, Vol. 12, No. 2, hlm. 68-75.
Nata, A. 2019. Pendidikan Islam di Era Milenial. Jurnal Pendidikan Islam, hlm. 10-28.
Nurfuadi, (2012). Profesionalisme Guru. Purwokerto: STAIN Press.
Rachmahana, R.S. 2008.Psikolgi Humanistik dan Aplikasinya dalam Pendidikan. Jurnal Pendidikan Islam, Vol. 1, No. 1, hlm. 99-114.
Santrock, J.W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba Humanika.
Suproho, N. 2009. Teori Belajar Humanistik. Jurnal Bimbingan dan Konseling, hlm. 1-14.
Suryadi, B. (2015). Generasi Y: Karakteristik, Masalah, dan Peran Konselor, Jurnal Bimbingan dan Konseling, hal. 2.
Swanzen, R. 2018. Facing the Generation Chasm: The Parenting and Teaching of Generations Y and Z. International Jurnal of Child, Youth and Family Studies, Vol. 9, No. 2, 125-150.
Komentar
Posting Komentar